www.tiket-pesawat-murah.web.id - Nikmati Layanan Tiket Pesawat Murah, Booking dan Cetak Sendiri Tiketnya

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Bergabung? silahkan klik disini

Senin, 21 April 2014

Ini Cara "Nge-charge" Smartphone yang Benar



Ilustrasi.
 
Smartphone bisa digunakan untuk membantu mengerjakan banyak hal, mulai dari mengecek e-mail, membaca berita, memotret, hingga aktivitas dengan berbagai media sosial dan pesan instan. Sayangnya, dengan banyak fungsi tersebut, umur baterai masih menjadi kendala.

Rata-rata smartphone saat ini memiliki waktu pakai 4-5 jam jika digunakan secara intens. Tentunya waktu tersebut tidak cukup untuk menemani aktivitas penggunanya seharian. Berikut beberapa tips meng-charge smartphone yang baik dan benar agar baterai bisa berumur panjang.

Jangan dibiarkan habis total

Banyak yang mengatakan agar baterai smartphone sebaiknya dibiarkan habis terlebih dahulu sebelum di-charge kembali. Hal itu memang benar, tetapi itu hanya untuk baterai dengan bahan nikel, yang saat ini sudah mulai ditinggalkan, sehingga saran di atas sudah tidak relevan.

Smartphone-smartphone modern saat ini sudah menggunakan baterai berbahan litium-ion, yang cara perawatannya pun juga berbeda dari baterai bahan nikel.

Baterai smartphone sebaiknya dijaga agar daya yang disimpan di dalamnya tetap di atas 50 persen. Sesekali daya baterai juga perlu "dikuras" hingga habis, misalnya sekali dalam sebulan untuk keperluan kalibrasi.

Jangan "di-charge" semalaman

Kebiasaan membiarkan baterai terhubung dengan charger semalaman sambil ditinggal tidur juga ternyata tidak baik. Walau beberapa charger bisa memutus arus listrik jika daya sudah terisi 100 persen, membiarkan baterai selalu berada dalam kondisi 100 persen terisi juga tidak baik.

Mengisi baterai sebentar saja hingga terisi penuh secara berkali-kali malah lebih baik untuk kesehatan baterai dibanding dibiarkan dalam kondisi nol persen atau 100 persen secara terus-menerus.

Baterai litium juga rawan jika dibiarkan sering kehabisan daya sebab baterai tersebut juga memiliki komponen yang bisa digunakan untuk merusak baterai sendiri untuk mencegah agar baterai tidak meledak. Walau tidak terjadi tiap hari, pengguna wajib waspada.

Hindari tempat yang panas

Hindarkan smartphone dari tempat-tempat yang panas, misalnya di dashboard mobil di bawah kaca depan mobil, walau smartphone dalam keadaan mati sekali pun. Sebab, panas yang terpapar bisa merusak baterai.

Baterai litium idealnya disimpan dalam suhu 15 derajat celsius. Suhu ekstrem yang bisa ditangani adalah antara minus 40 hingga 50 derajat celsius.

Langsung ke soket listrik

Menghubungkan baterai dengan charger melalui soket listrik adalah cara yang paling direkomendasikan. Walau saat ini diperkenalkan metode pengisian ulang baterai secara nirkabel, metode tersebut juga menghasilkan panas yang tidak baik untuk baterai.

Metode menghubungkan charger dengan soket listrik juga lebih cepat dan aman jika dibanding menghubungkan smartphone dengan USB komputer atau laptop via kabel data/charger.

Sumber: kompas.com

Kamis, 17 April 2014

Miliki Ekor, Anak Ini Dianggap Dewa


Dia dianggap mirip Hanoman.


Amar Singh, Bocah Berekor yang Dianggap Dewa (Mirror)

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun tumbuh dengan sebuah ekor di bagian bawah punggungnya. Hal ini kemudian membuatnya dipuja seperti figur seorang dewa di desa tempat ia tinggal.

Anak bernama Amar Singh tersebut merupakan warga negara India yang tinggal di Njimapur, Uttar Pradesh, India Utara. Ekor unik di tubuhnya terdiri dari rambut tebal bewarna hitam yang saat ini telah tumbuh sepanjang 12 inci.

Orang-orang di desa itu pun menghubung-hubungkannya dengan dewa berwujud seekor monyet putih dalam kepercayaan agama Hindu yakni Hanoman.

Keluarganya mengklaim bahwa anak laki-laki ini lahir dengan ekor yang kala itu hanya sepanjang satu inci. Tahun demi tahun berlalu dan ekor di tubuh sang anak kian memanjang. Keluarga pun mengaku tak pernah memotongnya.

"Anak saya adalah anak yang sangat baik hati. Dia juga sehat dan normal juga giat belajar seperti anak-anak lainnya," ujar sang Ayah, Ajmer Singh, dilansir Mirror.

Menurutnya, alasan keluarga tidak memotong ekor sang anak adalah karena rambut ekor itu dianggap sebagai hadiah dari Tuhan.

Amar, anak paling muda yang memiliki empat orang saudara perempuan dan satu orang saudara laki-laki itu juga terlihat menikmati hidupnya di desa. Setiap hari ia banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak sebayanya juga sapi-sapi ternak.

Warga desa lainnya juga banyak yang mengemukakan teori bahwa kondisi Amar mirip dengan kondisi sapi yang merupakan hewan yang dianggap suci dalam budaya Hindu. (eh)

  Sumber : VIVAlife

Followers